Pengumuman
Sahabat Mading.co.id bisa mempublikasikan karyanya di situs ini secara gratis. Untuk sementara Mading.co.id belum memberikan reward kepada penulis yang karyanya telah dipublikasikan.
Opini  

Krisis Komunikasi Dalam Keluarga dan Dampaknya Terhadap Pendidikan Anak

Oleh : Lian Octavia, S.Pd*

Admin
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat, banyak keluarga modern menghadapi krisis komunikasi yang kian nyata. Kesibukan orang tua, tekanan ekonomi, dan dominasi teknologi digital menciptakan jarak emosional dalam hubungan keluarga. Ruang interaksi yang dahulu hangat kini sering digantikan oleh keheningan yang ditemani layar.

Fenomena ini memperlihatkan penurunan waktu komunikasi bermakna dalam keluarga. Banyak percakapan hanya sebatas urusan harian tanpa memberi ruang bagi ekspresi perasaan. Padahal keluarga merupakan lingkungan pertama tempat akhlak, karakter, dan identitas diri dibentuk. Ketika komunikasi melemah, fondasi pendidikan anak ikut rapuh.

Salah satu faktor utama krisis ini adalah kesibukan orang tua. Jam kerja yang panjang membuat energi emosional terkuras sehingga waktu bersama keluarga tidak lagi dimanfaatkan untuk berbagi cerita atau mendengarkan pengalaman anak.

Dominasi gawai turut memperparah situasi. Data literatur menunjukkan bahwa sekitar 95 persen keluarga Indonesia memiliki akses smartphone. Namun hanya sebagian kecil yang menerapkan aturan penggunaan gawai di rumah. Akibatnya, ruang makan dan ruang keluarga lebih dipenuhi cahaya layar dibanding dialog.

Perubahan gaya hidup yang semakin individualistis juga memengaruhi pola relasi. Anak cenderung bersosialisasi melalui dunia digital, sedangkan orang tua menghabiskan waktu dengan media sosial. Kondisi ini perlahan mengikis kedekatan emosional dalam keluarga.

Krisis komunikasi membawa dampak jangka panjang pada perkembangan anak. Beberapa temuan menunjukkan kecerdasan emosional menurun ketika anak tidak terbiasa berdialog dan mengekspresikan perasaannya. Riset American Psychological Association (2023) mengungkapkan bahwa anak yang memiliki komunikasi baik dengan orang tua cenderung 27 persen lebih stabil secara akademik. Lemahnya kedekatan keluarga juga membuat penanaman nilai, akhlak, dan disiplin menjadi tidak efektif. Anak pun lebih rentan mencari pelarian dalam pergaulan negatif atau konten digital yang berisiko.

Dalam situasi ini, orang tua perlu kembali mengambil peran sebagai teladan utama. Langkah sederhana dapat dimulai dengan menyediakan waktu berkualitas 15–30 menit setiap hari tanpa gawai. Pertemuan keluarga mingguan dapat dimanfaatkan untuk menyepakati aturan rumah, termasuk aturan penggunaan gawai.

Kehadiran orang tua sebagai pendengar sangat penting bagi anak. Mendengarkan tanpa menghakimi memberi rasa aman dan memperkuat kepercayaan diri anak. Teladan juga harus tampak dalam tindakan, bukan sekadar perintah, karena anak meniru apa yang ia lihat. Hubungan ayah dan ibu perlu dijaga sebagai satu kesatuan yang menghadirkan kasih sayang, kerja sama, dan tanggung jawab. Anak yang kehilangan teladan ibarat tanaman yang tumbuh tanpa matahari—tetap tumbuh, tetapi tanpa arah dan kehangatan.

Dalam perspektif Islam, komunikasi dalam keluarga ditempatkan sebagai bagian dari ibadah. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya…” (HR. Tirmidzi).

Ayat Al-Qur’an juga mengingatkan, “Dan katakanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 83).

Dua sumber ini menegaskan bahwa komunikasi yang lembut, penuh perhatian, dan memuliakan bukan hanya etika sosial, tetapi amanah moral yang harus dijaga.

Pada akhirnya, keluarga Indonesia memerlukan pembaruan cara berkomunikasi. Menghidupkan kembali percakapan, mendekatkan diri dengan anak, serta menempatkan teknologi sebagai alat, bukan pusat kehidupan, merupakan langkah mendesak. Kita mungkin tidak dapat menghentikan arus perubahan zaman, tetapi kita dapat memastikan komunikasi tetap menjadi jantung pendidikan keluarga. Sebab dalam dunia yang serba cepat, anak tetap membutuhkan kehadiran orang tua yang mau mendengar, memahami, dan menuntun dengan cinta. (**)

*Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Informasi : Sahabat Mading dimanapun berada, sahabat bisa mengirimkan karya ke situs ini. Karya boleh berupa artikel, puisi, cerpen, cerbung ataupun curhatan lainnya. Untuk saat ini, Mading belum menyediakan reward untuk yang mengirimkan tulisan. Enjoy!

Baca artikel lainnya. Klik disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *